Blog Cerita Dewasa Video Dewasa Foto Dewasa Terbaru

cerita dewasa

cerita dewasa

read more

Video Sex

Video Sex

read more

cerita dewasa

Cerita Dewasa

read more

Minggu, 29 Oktober 2017

Istri Ngentot Dengan Selingkuhan Saat Laundry Sepi

Cerita Seks Istri Ngentot Dengan Selingkuhan Saat Laundry Sepi | Cerita sex hot ini masih anget. Tanggal 23 november 2016. Istriku buka usaha laundry di sekitaran kampus terkenal di Yogyakarta. Ya masih kecil-kecilan tapi lumayanlah bisa buat tambah-tambah uang belanja dan jajan anak.



Hampir sekitar enam bulan buka laundry, pelangganya dah lumayan. Disamping kios laundry istriku adalah sebuah bengkel motor kecil dan sampingnya lagi sebuah warteg. Istriku yang sekarang ini pendidikan tidak tinggi, tp soal cari uang dia lincah sekali, aku sendiri kalah jauh denganya.


Pernah dia menyuruhku keluar dari kerjaan, karena hasilnya nggak sesuai dengan pikiran dan tenaga yang di keluarkan. Tapi eman-eman tunjagane jee…. hehehehe… Ya di sela-sela kerja, aku nyempatin nyuri-nyuri waktu untuk mengurus usaha. Untung saja aku orang lapangan, jadi biasa sedikit korupsi waktu. Jangan buat tidur lho yaaa….

Cerita Seks Istri Ngentot Dengan Selingkuhan Saat Suami Pergi


Walau usaha ini cuma kecil-kecilan, tapi kesibukan melayani pelanggan kadang sampai kewalahan, walau sekarang sudah di bantu dengan tiga karyawan. Malahan kadang istriku lembur sampai malam juga, biar kerjaanya kelar semua. Dia selalu mengutamakan kebersihan dan tepat waktu, agar pelanggan tidak kecewa. Karena aku juga seorang kuli dan kalau libur kerja fokus ke usaha, ya semacam jual beli makanana/sembako dan sebagainya


Aku juga menyewa sebuah kios untuk gudang yang letaknya juga tak jauh dari tempat laundry istriku. Menurut info dari warga setempat daerah ini sebenaranya rawan pencurian, apa lagi tempatnya tidak di jaga. Untuk mengantisipasi hal tersebut selain memang udah kerjasama dengan keamanan setempat, aku pasang cctv di tempat lundry istriku dan gudangku.

Oh iya, istriku yang sekarang ini ciri-cirinya kecil agak berisi, ukuran dada 34, rambut panjang lurus. Walau belum lama buka usaha laundry, tapi teman dan pelangganya sudah banyak yang akrab. Penampilan istriku pun bisa di bilang agak berani kalau pas di laundy. Kadang hanya mengenakan kaos ketat berbahan tipis dan hotpant. Seringnya pakai kaos dengan belahan rendah, hingga belahan payudaranya terpampang jelas.


Aku sudah sering peringatkan, tapi emang istriku orangnya ngeyelan. Aku kalau siang sengaja lewat tempat laundry istriku, banyak laki-laki nongkrong di depan kios laundry istriku, entah ke bengkel motor atau warteg, mungkin banyak alasanya juga mereka nongkrong di depan kios laundry istrku. Pernah beberapa kali aku sengata datangi tempat usaha istriku pas jam makan siang, disana pas banyak laki-laki yang nongrong di depan kios istriku. Ketika aku datang, laki-laki tersebut langsung pada bubar, mungkin lihat aku yang sangar hehehehe… Karena sekarang aku berjenggot dan bercambang juga. Aku nyemparin istrku, sengaja aku ajak makan siang hehe…


Pernah istriku berkata, jangan sering-sering mampir ke kios, nanti penggemarnya pada kabur semua. Aku tanya kenapa, istriku menjawab karena aku tampilanya garang dan sangar. Jadi kalau liat aku, mereka pada pada takut, termasuk orang-orang bengkel sebelah kios laundry istriku. Hadehhh… padahal ane dah jinak lho.. . Istriku juge cerita, pernah ada beberapa laki-laki yang dengan terang-terangan bilang tertarik dengan istriku, termauk beberapa pelanggan laundrynya. Tapi cuma ditanggapi santai sama istriku. Aku bertanya pada istriku pernah ada yang coba-coba nyentuh tidak, istriku mejawab pernah juga.


Hari sabtu, pas hari besar salah satu agama, tanggal merah. Tapi walau tanggal merah, tetap rugi buatku karena libur kerja kan sabtu-minggu. Pagi-pagi sekali aku sudah loading barang di gudang, lalu pulang sebentar buat sarapan dengan istriku.


Setelah aku turunkan istriku di tempat usahanya, aku langsung tancap gas mengantar barang pesanan ke beberapa toko langgananku. Hari ini lumayan jauh mengantar barang pesanan karena ada toko pelangganku yang berada di luar propinsi. Pas maghrib aku baru sampai di jogja kota. Niatku langsung ke gudang nurunin barang dagangan yang tersisa. Pas lewat depan kios laundry istriku, kok kiosnya dalam keadaan tertutup dan ada mobil jazz merah parkir di depanya, motor istriku juga masih terpakir di teras kios.


Tapi memang kalau jam segitu dan pas nglembur, pintu kios sengaja ditutup sama istriku. Sedangkan dia di dalam biasanya menyelesaikan kerjaanya. Saat itu suasananya memang sangat sepi. Banyak tempat usaha sederatan kios istriku sengaja tidak buka, karena memang bertepatan dengan hari libur nasional. Mobilku aku lajukan pelan di depan kios istriku, lalu aku lanjutkan ke gudang yang jaraknya hanya sekitar 100 meter dari kios istriku. Aku telpon istriku tak ada jawaban. Lalu aku turunkan sisa barang dagangan di gudang, lumayan pegel juga nurunin barang-barang tersebut karena barangnya lumayan besar-besar hehehe…. Hampir 60 menit aku nurunin sisa barang dagangan dan bersih-bersih gudang, lalu aku iseng-iseng nyuci mobil juga.


Pas nyuci mobilku di depan gudangku, aku dengan samar-samar melihat seorang laki-laki-keluar sari kios laundry istriku, perwakanya tinggi gemuk. Dia bawa kantong cucian, lalu dia masuk kedalam mobil jazz merah, dan melaju ke arah utara. Istriku tak nampak keluar dari kios. Lalu aku beranjak ke kios istriku, jalan kaki, wong deket. Pas aku masuk ke dalam kios, istriku tampak terkejut. Dia mberesin bajunya. Rupanya istriku sudah ganti baju sore tadi, sekarang yang dikenakan kaos ketat tanpa lengan dan rok berbahan kaos yang cuma sebatas paha.


“Lho papa kok udah pulang? kok nggak ngasih kabar?”

“Wong tadi udah papa telpon dan sms nggak ada respon kok dari mama”

“Baru sibuk ya ma…?” istriku tak menjawab cuma senyum-senyum saja.


Aku tanya siapa laki-laki yang bawa mobil jazz merah tadi ke istriku. Karena aku dan istriku sudah terbiasa terbuka., istriku menjawab dengan santai. Laki-laki yang bawa jazz merah tadi namanya Tedi. Dia pelanggan laundri istriku. Setiap minggu paling tidak 4 sampai 5 kali naruh cucian di laundry istriku.


Tedi ini dari awal sudah akarb dengan istriku, dan pernah ngungkapin kalau tertarik dengan istriku, padahal dia juga sudah berkeluarga. Kata istriku, si Tedi ini juga sering curhat ke istriku. Bahkan pernah beberapa kali ngajak istriku makan siang bareng. Welehh kok aku nggak tau ya.


Aku langsung protes ke istriku soal si Tedi ini. Eh malah dia ngejawab dengan santai, yang penting rasa sayang dan cinta ke aku tak berkurang. Terus aku tanya lagi ke istriku, tadi ngapain aja kok pintu kios di tutup semua. Istriku hanya senyum-senyum aja, lalu nerusin dengan jawaban.


Istriku bilang tadi sebenrnya udah selesai semua sebelum maghrib, dan ketiga karyawanya sudah pulang semua. Tapi si Tedi nelpon, bilang mau ambil barangnya habis maghrib, ya terpaksa istriku nungguin si Tedi sambil nycil kerjaan yang buat besok. Karena sudah sepi, kiosnya di tutup sama istriku, di sisain satu pintu yang buat keluar masuk. Setelah maghrib si Tedi datang ke kios dengan bawa cucian lagi. Tapi si Tedi tak langsung pulang, dia malah ngajak ngobrol sama istriku dulu.


Rupanya si Tedi ini lagi punya masalah dengan istrinya, dan ternyata dia juga pandai merayu. Sambil ngobrol-ngobrol, Si tedi juga meray istriku juga. Sebenarnya udah lama si Tedi meray istriku. Sam istriku kadang dipancing juga sie.. . Tapi tadi karena di kios dalam keadaan sepi dan tak ada orang lain, Tedi lebih berani ke istriku. Kata istriku awalnya sie cuma pegang-pegang tangan aja. Tapi lama-lama dia mulai merangsang istriku. Lama-lama istriku juga terbawa suasana. Mereka berdua ngentot di dalam kios.


Waduh, kecolongan aku nie. Istriku memandangku, sambil senyum-senyum. Mulai deh genitnya.


“Ich papa cemburu yaa…”

“Nggak juga tuh..”

“Alaah nggak usah pura-pura lah pa… mama tadi keluar empat kali lho pa..” (sambil senyum-senyum menggoda)

“Kalau cemburu kenapa ma…”

“Nanti di rumah mama kasih deh hehe…”

“papa kalau penasaran liat aja di rekaman cctv hehehe….”


Ya kayak gitu deh kelakuan istriku kalau sudah puas walau dadakan. Mulai menggoda dan bikin cemburu suaminya sendiri. Aku langsung bongkar tu rekaman cctv. Di kios istriku ini ku pasang 3 cctv, depan satu dan di dalam 2. Di dalam bagian depan yang biasa buat nerima orderan, kasir dan setrika. Satu lagi kupasang di bagian belakang, di sekitar mesin cuci dan pengering. CCTV itu terhubung dengan hardisk yang aku simpan di tempat paling aman hehe… Aku copy rekaman hari ini ke flashdisk. Lalu kami pun segera pulang ke rumah.
Sampai dirumah setelah mandi dan makan malam, aku langsung memutar rekaman cctv itu. Aku cepetin rekaman itu di jam pas Tedi datang ke kios. Untung kualitas kameranya sangat bagus dan terbantu lampu kios yang terang. Aku mulai dari pas Tedi datang ke kios bawa cucian. Lalu dia duduk di kursi. Setelah urusan cucian beres, Tedi dan istriku duduk berhadapan. Proses ngobrol-ngobrol Tedi dan istriku sekitar setenga jamman. Aku liat si Tedi ini lama-lama makin dekat duduknya dengan istriku

Pertama si Tedi pegang tangan istriku. Aku tak tau apa yang sedang di obrolkan mereka berdua, karena tak terekam audionya. Selanjutnya si Tedi tampak mendekatkan tubuhnya ke tubuh istriku.


Adegan berikutnya si Tedi mengelus kepala istriku, lalu si Tedi menyium bibir istriku. Istriku bereaksi, dia balas pagutan bibir si Tedi, dan tangan istriku merangkul kepala Tedi. Hampir 5 menit mereka saling melumat ganas. Karena cctv di seberang mereka duduk, jadi setiap adegan bisa terlihat dengan jelas.


Setelah mereka berdua puas berciuman, istriku bangkit dan melangkah ke arah pintu, rupanya istriku mau menutup pintu depan. Setelah nutup pintu, istriku kembali ke tempat duduk tadi, Tedi langsung nyergap istriku. Dia memeluk istriku dengan menyiu,i lehernya.
Mendapat serangan mendadak, istriku pasrah saja. Si Tedi membimbing istriku kursi lagi. Sambil terus berciuman, tangan si Tedi menyelinap ke rok mini istriku. Sama istriku tangan si Tedi di keluarin dari rok mini. Mungkin tidak menyerah, tangan si Tedi pindah dan hinggap di toket istriku.


Si Tedi meremas-remas toket istriku dari luar bajunya, tangan satunya membimbing tangan istriku agar meremas penisnya. Terlihat juga tangan si Tedi menyusup kedalam baju istriku. Dia meraba dan meremas-remas toket istriku dari dalam baju. Tapi rupanya Tedi juga melepas BH istriku, pinter juga cara nglepasnya.


Tedi lalu menyibakkan baju istriku, hingga terpampanglah toket istriku yang indah itu. Dengan buasnya, Tedi melalap toket istriku. Jelas istriku sangat keenakan dapat serangan di toketnya., karena ini adalah salah satu titik lemahnya. Akhirnya istriku roboh di kursi itu. Puas dengan toketnya, Tedi berniat menyerbu kemaluan istriku. Dia merayap ke bawah, lalu dia menyingkapkan rok mini istriku. Dia mengobok-obok kemaluan istriku dengan jari-jarinya, lalu Tedi plorotin celana dalam istriku.


Tedi membungkuk, berniat untuk menjilati kemaluan istriku. Tapi istriku menolak, aku tau dia paling geli kalo kemaluanya di jilati. Lalu istriku bangkit dan menyiumi Tedi dengan lembut. Si Tedi berdiri, dia melucuti baju dan celananya. Sekarang bugil lah dia. Dari rekaman terlihat, perut si Tedi sangatlah buncit hehehehe…. Dia berdiri di depan istriku, di sodorkan batang penisnya ke istriku. Sambil duduk di kursi panjang itu, istriku memainkan penis si Tedi. Mirip di film bokep, kepala istriku di pegangnya. Sekitar lima menitan, Tedi minta berhenti. Lalu istriku berdiri, dia melepas bajunya sendiri, dan berbugil ria lah mereke berdua.


Tedi medudukkan istriku ke kusrsi lagi, dan Tedi merebahkan istriku, Tapi karena kursi panjang tersebut terbilang cukup sempit, karena memang bukan kursi sofa, dan tubuh Tedi yang big size, proses ngentot di kursi tersebut tampak sangat susah sekali. Istriku bangkit lagi, lalu dia cari-cari seuatu. Tampak di kamera 3, istriku sampai ke belakang juga. Setelah ketemu yang dia cari-cari, dia kembali ke depan lagi. Rupanya istriku mencari bed cover buat alas.


Tedi segera datang menghampiri istriku. Mereka masih aja bercumbu diatas bed cover tadi. Tak lama kemudian, tubuh Tedi sudah berada di atas tubuh istriku. Kaki istriku sudah dalam posisi mengangkang, sudah tampak pasrah. Tedi pun langsung menusukkan batang penisnya ke lubang kemaluan istriku. Tampak istriku mengelinjang-gelinjang keenakan. Tedi pun mempercepat tusukkan penisnya ke lubang kemaluan istriku.


Yang terkena tusukkan pun merasa keenakan karena gerakan tubuhnya juga ikut bergoyang. Istriku mungkin sudah mendapatkan orgame, karena memang istriku mudah orgasme, dan bisa berkali-kali orgasme. Dalam rekaman cctv itu, terlihat istriku beberapa kali tubuhnya mengejang dan menggoyangkan pinggulnya juga. Hampir 15 menit adegan berlangsung. Tedi menyabut batang penisnya dari lubang kemaluan istriku. Rupanya dia sudah ngecrot, dan tumpah di perut istriku. Mereka berdua lalu bangkit, istriku buru-buru ke kamar mandi. Tedi nyusul kemudian.


Istriku yang masih dalam keadaan bugil tampak meberesin bed cover yang tadi di pakai alas. Tedi duduk di kursi panjang lagi, belum memakai bajunya. Istriku ambil bajunya, lalu duduk di sebelah Tedi. Tampak mereka mgbrol-ngobrol lagi, tapi kayaknya bercanda. Tubuh gwmbul Tedi rebahan di kursi, mungkin dia lelah banget dia.


Tangan kiri Tedi memeluk pinggang istriku, kadang tampak ke atas bagian toket istriku. Badan mereka saling berdempetan, istriku yang tubuhnya mungil tampak semakin kecil aja di samping tubuh gembul Tedi. Mereka tampaknya terus bercanda, entah soal apa. Tapi tak lama kemudian tangan kanan istriku menggengam penis Tedi lagi. Istriku mengocok-ngocok penis Tedi yang masih loyo dengan lembut. Setelah agak besar, istriku nunduk, dia mengoral penis Tedi.
Dari rekaman cctv terlihat betapa lincahnya mulut istriku mengoral penis itu, entah di kulum, di jilat kadang di hisap. Tedi tampak kelijotan mendapat serangan itu.


Istriku lalu berdiri, dia lalu dudukin penis si Tedi yang sudah tegang mengeras. Istriku menduduki penis itu sambil membelakangi Tedi. Setelah beberapa kali ngepasin, akhirnya penis si Tedi masuk ke dalam lubang kemaluan istriku. Tampak istriku menggoyang-goyang kan pantatnya

Tangan istriku bertumpu pada lutut Tedi. Gerakanya sungguh seksi. Dari belakang, tangan Tedi mencoba meraih toket istriku, tapi karena gerakanya terhalang oleh perut buncit Tedi, maka Tedi hanya bisa meremas pantat istriku. Hampir 15 menit kemudian, istriku menghentikan goyanganya. Tubuhnya mengejang hebat. Rupanya istriku orgasme lagi. Tubuh istriku kemudian merebah ke belakang, dia bersandar je tubuh gembul Tedi.


Tedi kemudian meremas pantat istriku, sambil meyodokkan penisnya ke lubang kemaluan istriku. Tapi adegan itu tidak berjalan lama, istriku terlihat bangkit dari pangkuan Tedi, dan berdiri. Tedi pun ikut berdiri. Istriku tampak membelakangi Tedi, dia nungging sambil berdiri. Dar belakang Tedi menyodokkan penisnya lagi ke lubang kemaluan istriku. Istriku bertumpu pegangan ke kursi panjang. Tedi meyodokkan penisnya dengan irama lambat.


Tapi aku lihat istriku juga ikut menggoyangkan pantatnya, mau tidak mau, Tedi juga menambah irama sodokkanya. Ada satu adegan yang aku tak pernah lakukan dengan istriku saat ngentot, yaitu menepuk-nepuk pantatnya saat dogy.


Tapi Tedi menepuk-nepuk pantat istriku dengan berirama. Tampaknya istriku juga menikmati tepukan tersebut. Dari ekpresinya, istriku terlihat mengerang keras keenakan. Sekitar sepuluh menit adegan tersebut berlangsung, Tedi menyabut penisnya dari lubang kemaluan istriku. Lalu terlihat dia terlentang di atas karpet lantai. Istriku terlihat ngocok-ngocok penis Tedi sebentar, lalu istriku kembali menduduki penis Tedi.


Kali ini istriku menghadap ke yubuh Tedi. Mulanya dia berposisi jongkok, dia masukin penis Tedi ke lubang kemaluanya. Setelah penis Tedi masuk dalam lubang kemaluanya, dia kembali menggoyang-goyang kan. Beberapa menit kemudian, dia merebahkan tubuhnya ke tubuh Tedi, kaki kirinya lurus sejajar kaki Tedi, sedangkan kaki kananya agak menekuk ke samping. Istriku lalu kembali bergoyang di atas tubuh gembul Tedi.


Aku tau posisi ini adalah jurus andalan istriku biar lawanya cepat ngecrot. Benar saja, tak sampai lima menit adegan berhenti. Tapi istriku masih menggoyang pinggulnya. Sedangkan Tedi seperti terengah-engah nafasnya, terlihat dari perutnya yang naik turun hehe….
Kemudian istriku turun dari tubuh Tedi, dan ke kamar mandi, terlihat dari kamera 3. Tak lama kemduian istriku keluar dari kamar mandi, gantian si Tedi, tapi cuma sangat sebentar dia di kamar mandi.

Mereka berdua kemudian mengenakan baju masing-masing. Istriku membantu Tedi meberesin pakaian yang baru di cuci.


Sebelum pergi, Tedi memeluk dan menyium istriku dulu. Lalu dia kasih sesuatu ke istriku. Selanjutnya sperti yang aku liat secara langsung, Tedi keluar menuju mobilnya dan langsung pergi. Rekaman ccyv pun aku akhiri, antara marah, cemburu dan gairah bercampur menjadi satu. Lalu aku bertanya ke istriku.


“Si Tedi tadi ngasih apa ma?”

“Owh tadi si Tedi ngasih uang cucian pa”

“Tapi papa liat kok lumayan banyak ya?”

“Sama bonus itu pa… hehehehehe…” (kumat lagi deh)

“Jangan keterusan lho ma..”

“Eh dianya sendiri yang mau ngasih kok, mama juga nggak minta pa… kenapa? cemburu ya pa…” (malah neledek aku)

Istriku ini memang suka sama laki-laki yang bertubuh gembul, karena aku juga gembul hehe… Jadiinya saat Tedi mendekat, gampang akrab dengan istriku.


Lagipula istriku orangnya gampang bergaul dan mudah akrab dengan siapa saja, asal pertemuan pertama tidak berkesan kurang ajar ke istriku. Kata istriku, sebenarnya ada beberapa laki-laki yang coba-coba ajak keluar dia. Tapi bayak yang minder kalau tau siapa suaminya.
Share:

Ngentot Janda Mabuk

Cerita Seks Ngentot Janda Mabuk | Sebagai tetangga sebelah rumah, aku cukup akrab dengan semua anggota keluarga, sehingga aku bisa keluar masuk rumahnya dengan leluasa. Oh iya, sebelum aku lupa, Mbak Emi ini orangnya hitam manis dengan payudara cukup besar. Entahlah, aku sendiri saat itu tidak tau persis, karena masih “ingusan”. Yang aku tau, ukurannya cukup membuat anak seusiaku menelan ludah, kalau melihatnya.

Cerita Seks Ngentot Janda Mabuk

Seperti orang Betawi jaman dulu pada umumnya, Mbak Emi ini suka sekali, terutama kalau hari sedang panas, cuma pakai bra saja dan rok bawah. Mungkin untuk mendapatkan kesegaran. Nah aku seringkali melihat si Mbak dalam “mode” seperti ini. Usiaku saat itu sudah memungkinkan untuk bergairah melihat tonjolan payudaranya yang hanya ditutupi bra. Tapi yang paling membuatku menahan nafas adalah bentuk dan goyangan pantatnya. Pinggul dan pantatnya bulat dan bentuknya “nonggeng” di belakang. Kalau berjalan, pantatnya bergoyang sedemikian rupa membuat gairah remajaku yang baru tumbuh selalu tergoda.

Pembaca, Mbak Emi ini sudah tiga kali menjanda, dan semua warga kampung kami sudah tahu bahwa Mbak Emi ini memang “nakal” sehingga tidak ada pria yang betah berlama-lama menjadi suaminya. Mbak Emi ini suka sekali menggodaku dengan mengatakan bahwa dia pengen sekali merasakan keperjakaanku.

Suatu kali, selepas maghrib, aku ke rumahnya. Tadinya aku ingin mengajak Udin, adiknya yang temanku untuk main. Aku masuk lewat pintu belakang karena memang sudah akrab sekali. Tapi di belakang rumahnya itu, ada Mbak Emi yang sedang duduk di kursi dekat sumur.

Aku bertanya ke si Mbak, “Udin ada?”.
“Kagak, dia ikut baba (Bapak) ama nyak (Ibu) ke Depok.” jawab si Mbak.
“Wah, jadi Mbak sendirian dong di rumah?” tanyaku basa basi.

“Iya, asyik kan? Kita bisa pacaran.” sahut si Mbak.
Aku cuma tertawa, karena memang sudah biasa dia ngomong begitu.
“Duduk dulu dong Wan, ngobrol ama Mbak ngapa sih.” katanya.

Akupun duduk di kursi sebelah kirinya, si Mbak sedang minum anggur cap orangtua. Aku tahu dia memang suka minum anggur, mungkin itu juga sebabnya tidak ada suami yang betah sama dia.

“Si Amir mana mbak?” tanyaku menanyakan anaknya.
“Diajak ke Depok.” sahutnya pendek.
“Mau minum nggak Wan?” dia nawarin anggurnya.

Aku tidak menolak, aku juga suka minum, cuma karena orang tuaku termasuk berada, biasanya aku hanya minum minuman dari luar negeri. Tapi saat itu aku minum juga anggur yang ditawarkan Mbak Emi. Jadilah kami minum sambil ngobrol ngalor ngidul. Tak terasa sudah satu botol kami habiskan berdua. Dan aku mulai terpengaruh alkohol dalam anggur itu, namun aku pura-pura masih kuat, karena kulihat Mbak Emi belum terpengaruh.

Aku mulai memperhatikan Mbak Emi lebih teliti. Pandanganku tertuju ke toketnya yang hanya ditutupi bra hitam yang agak kekecilan. Sehingga toketnya seperti mau meloncat keluar. Wajahnya cukup manis, agak ke arab-araban, kulitnya hitam tapi mulus. Baru sekarang aku menyadari bahwa ternyata Mbak Emi manis juga. Rupanya pengaruh alkohol sudah mendominasi pikiranku.

Merasa diperhatikan si Mbak membusungkan dadanya, membuat penis remajaku mulai mengeras. Dan dengan sengaja dia membuat gerakan menggaruk toket kirinya sambil memperhatikan reaksiku. Tentu saja aku belingsatan dibuatnya. Sambil menggaruk toketnya perlahan si Mbak bertanya.

“Wan kok bengong gitu sih?”
Bukannya kaget, aku yang sudah setengah mabok itu malah menjawab terus terang, “Abis tetek Mbak gede banget, bikin saya napsu aja.”
Eh, dia malah merogoh toket kirinya, terus dikeluarkan dari branya.

“Kalo napsu, pegang aja Wan. Nih,” katanya sambil mengasongkan toketnya ke depan.

“Diemut juga boleh Wan.” tambahnya.
Aku yang sudah mabok alkohol, semakin pusing karena ditambah mabok kepayang akibat tantangan Mbak Emi.

“Boleh Mbak?” tanyaku lugu.
“Dari dulu kan Mbak udah pengen buka “segel” Irwan. Irwannya aja yang jual mahal.” katanya sambil memegang kepalaku dengan tangan kirinya dan menekan kepalaku ke arah toketnya.
Aku pasrah, perlahan mukaku mendekat ke arah toket kirinya yang sudah dikeluarkan dari bra itu. Dan hidungku menyentuh pentilnya yang cokelat kehitaman. Segera aroma yang aneh tapi membuat kepalaku seperti hilang menyergap hidungku. Dan keluguanku membuat aku hanya puas mencium dengan hidungku, menghirup aroma toket Mbak Emi saja.

“Waan.” tegur Mbak Emi.
“Apa Mbak?” tanyaku sambil menengadah.
“Jangan cuma diendus gitu ngapa. Keluarin lidah Irwan, jilatin pentil Mbak, terus diemut juga. Ayo coba” Mbak Emi mengajariku sambil kembali tangannya menekan kepalaku.

Aku menurut, kukeluarkan lidahku, dan kujilati sekitar pentilnya yang kurasakan semakin keras di lidahku. Dan sesekali kuemut pentilnya seperti bayi yang menyusu pada ibunya. Ku dengar Mbak Emi mengerang, tangannya meremas rambutku dan berkata.

“Naah, gitu Wan. Terusin Waann. Gigit pentil Mbak Wan, tapi jangan kenceng gigitnya, pelan aja.” pinta si Mbak.

Akupun menuruti permintaannya. Kugigit pentilnya pelan, erangan dan desahannya semakin keras. Dengan lembut si Mbak menarik kepalaku dari toketnya, wajahku ditengadahkan, lalu dia mencium bibirku dengan penuh gairah. Bibirku diemut dan lidahnya bermain dengan lincahnya di dalam mulutku. Aku terpesona dengan permainan lidahnya yang baru sekali ini kurasakan. Getaran yang diberikan Mbak Emi melalui lidahnya menjalar dari sekujur bibirku sampai ke seluruh tubuhku dan akhirnya masuk ke jantungku. Aku terbawa ke awang-awang. TIdak hanya itu, Mbak Emi menjilati sekujur wajahku, dari mulai daguku, ke hidungku, mataku semua dijilat tak terlewat satu sentipun.

Terakhir lidah Mbak Emi menyapu telingaku, bergetar rasanya seluruh tubuhku merasakan sensasi yang Mbak Emi berikan ini. “Ngesex Janda HOT”
Sambil menjilati telingaku, tangannya menarik tanganku dan dibawanya ke toketnya, sambil membisikkan, “Remes-remes tetek Mbak dong Waann.” Aku menurutinya, dan kudengar desahan si Mbak yang membuatku semakin bergairah, sehingga remasanku pada teteknya juga semakin intens.

“Aauugghh.. Sshh.. Naahh gitu Wan.”
Lalu diapun kembali menjilati daerah telingaku. Aku semakin terbuai dengan permainan Mbak Emi yang ternyata sangat mengasyikkan untukku ini. Lalu Mbak Emi kembali menciumi bibirku, dan kami saling berpagutan. Aku jadi mengikuti permainan lidah Mbak Emi, lidah kami saling membelit, menjilat mulut masing-masing. Kembali kurasakan tekanan tangan Mbak Emi yang membimbing kepalaku ke leher dan telinganya. Akupun melakukan seperti yang dilakukan Mbak Emi tadi.

Kujilati telinganya, dan dia mendesah kenikmatan. Lagi, dia menekan kepalaku untuk mencapai teteknya yang semakin mencuat pentilnya. Aku mencoba mengambil inisiatif untuk memegang vaginanya. Tangan kiriku bergerak turun untuk menyentuh bagian paling intim Mbak Emi. Tapi Mbak Emi menahan tanganku.

“Nanti dong Waan, sabar ya sayaanng.” Aku sudah gemetar menahan gairah yang kurasakan mendesak di sekujur tubuhku.
“Mbak, Irwan pengen Mbak.” pintaku.
“Pengen apa Waan,” tanya Mbak Emi menggodaku.

“Pengen liat itu.” kataku sambil menunjuk ke selangkangan Mbak Emi yang masih tertutup rok merah dari bahan yang tipis.
“Pengen liat memek Mbak?” Mbak Emi menegaskan apa yang kuminta.
“Iya Mbak.” jawabku.

“Itu sih gampang, tinggal Mbak singkapin rok Mbak, udah keliatan tuh.” kata Mbak Emi sambil menyingkapkan roknya ke atas, sehingga terlihat celana dalamnya yang berwarna biru tua.

Dan kulihat segunduk daging di balik celana dalam biru tua itu. Aku menelan ludah dan terpaksa menahan untuk tidak limbung. Sungguh luar biasa bentuk gundukan di balik celana dalam itu. Aku memang baru pertama kali melihat gundukan memek, tapi aku yakin kalo gundukan memek Mbak Emi sangat montok alias tembem sekali. Dan Mbak Emi memang sengaja ingin menggodaku, dia menahan singkapan roknya itu beberapa lama, dan saat aku ingin menyentuhnya, dia kembali menutupnya sambil tertawa menggoda.

“Jangan disini dong Wan. Ntar kita digerebek lagi kalo ada yang tau.” kata Mbak Emi sambil berdiri dan menuntun tanganku ke dalam rumahnya.

Bagai kerbau dicocok hidungnya akupun menurut saja. Aku sudah pasrah, aku ingin sekali merasakan nikmatnya Mbak Emi. Dan yang pasti aku sudah telanjur hanyut oleh permainannya yang pandai sekali membawaku ke dalam jebakan kenikmatan permainan sorgawinya.

Mbak Emi menuntunku ke kamarnya. Tempat tidurnya hanya berupa kasur yang diletakkan di atas karpet vinyl, tanpa tempat tidur. Lalu Mbak Emi mengajakku duduk di kasur. Kami masih berpegangan tangan. Mbak Emi melumat bibirku, dan kami berpagutan kembali. Lalu Mbak Emi menghentikan ciuman kami. Dia menatapku dengan tajam, lalu bertanya.

“Wan, kamu bener-bener pengen ngeliat memek Mbak?”

Aku mengangguk, karena pertanyaan ini membuatku tidak bisa menjawab. Semakin mabok rasanya. Mbak Emi kemudian melepaskan rok dan bra yang dipakainya dan sekarang tinggal celana dalamnya saja yang masih tersisa.

Kembali aku menelan ludah. Dan pandanganku terpaku pada gundukan di balik celana dalam Mbak Emi. Betapa montoknya gundukan memek Mbak Emi.

Lalu Mbak Emi berbaring telentang, kemudian dengan gerakan perlahan, Mbak Emi mulai menurunkan celana dalam sehingga terlepaslah sudah. Aku yang masih duduk agak jauh dari posisi memek Mbak Emi cuma bisa menahan gairah yang menggelegak di dalam jantung dan hatiku.

Benar saja, memek Mbak Emi sangat tebal, dagingnya terlihat begitu menggairahkan. Dengan bulu yang lebat, semakin membuatku tidak karuan rasanya.

“Katanya pengen ngeliat, sini dong liatnya dari deket Wan,” kata Mbak Emi.
“I iya Mbak,” sahutku terbata sambil mendekatkan wajahku ke selangkangan Mbak Emi. Dia melebarkan kedua pahanya sehingga membuka jalan bagiku untuk lebih mendekat ke memeknya.

“Niih, puas-puasin deh liatin memek Mbak, Wan.” kata Mbak Emi.
Setelah dekat, apa yang kulihat sungguh membuatku tidak kuat untuk tidak gemetar. Belahan daging yang kulihat ini sangat indah, berwarna merah, bulunya lebat sekali menambah keindahan. Di bagian atas, mencuat daging kecil yang seperti menantangku untuk menjamahnya. Aromanya, sebuah aroma yang aneh, namun membuatku semakin horny.

“Udah? Cuma diliatin aja? Nggak mau nyium itil Mbak?” pancing Mbak Emi sambil dua jari tangan kanannya menggosok-gosok daging kecil yang mencuat di bagian atas memeknya.
“Mm.. Mmau Mbak. Mau banget.” kataku antusias. Lalu tangan Mbak Emi menekan kepalaku sehingga semakin dekat ke memeknya. “Ya udah cium dong kalo gitu, itil Mbak udah nggak tahan pengen Irwan ciumin, jilatin, gigitin.”

Dan bibirkupun menyentuh itilnya, kukecup itilnya dengan nafsu yang hampir membuatku pingsan. Aroma kewanitaan Mbak Emi semakin keras menerpa hidungku. Mbak Emi mendesah saat bibirku menyentuh itilnya. Lalu kejilati itilnya dengan semangat, tidak hanya itilnya, tapi juga bibir memek Mbak Emi yang tebal itu aku jilati. Jilatanku membuat Mbak Emi mengejang seraya mendesah dan mengerang hebat.

“Sshh.. Aarrgghh.. Gitu Waann.. Oogghh..”
Suara rintihan dan desahan Mbak Emi membuatku semakin bergairah menjilati seluruh bagian memek Mbak Emi. Bahkan sekarang kumasukkan lidahku ke dalam jepitan bibir memek Mbak Emi. Tangan Mbak Emi menekan kepalaku, sehingga wajahku semakin terbenam dalam selangkangan Mbak Emi. Agak susah juga aku bernafas, tapi aku senang sekali.

Kumasukkan lidahku ke dalam lubang nikmat Mbak Emi, lalu ku jelajahi lorong memeknya sejauh lidahku mampu menjangkaunya. Tiba-tiba, kurasakan lidahku seperti ada mengemut. Luar biasa, rupanya memek Mbak Emi membalas permainan lidahku dengan denyutan yang kurasakan seperti mengemut lidahku.

Tubuh Mbak Emi menggelinjang keras, pinggulnya berputar sehingga kepalaku ikut berputar.

Tapi itu tidak menghentikan permainan lidahku di dalam jepitan daging memek Mbak Emi. Desahan Mbak Emi semakin keras begitu juga dengan gerakan pinggulnya, aku semakin bersemangat menjilati, dan sesekali aku menjepit itilnya dengan kedua bibirku, dan rupanya ini sangat membuat Mbak Emi terangsang, terbukti setiap kali aku menjepit itilnya dengan bibir, Mbak Emi mengejang dan mendesah lebih keras.

“Sshh, aarrghhgghh, Wan, itu enak banget waan..”

Tapi, putaran pinggul Mbak Emi terhenti, sebagai gantinya, sesekali dia menghentakkan pantatnya ke atas. Hentakan-hentakan ini membuat wajahku seperti mengangguk-angguk. Erangannya semakin keras, dan tiba-tiba dia menjerit kecil, tubuhnya mengejang, pantatnya diangkat keatas, sedangkan tangannya menekan kepalaku dengan kencang ke memeknya. Dan kurasakan di dalam memek Mbak Emi ada cairan yang membanjir dan ada rasa gurih yang nikmat sekali pada lidahku.

Desahan Mbak Emi seperti sedang menahan sakit. Tapi belakangan baru aku tahu bahwa ternyata Mbak Emi sedang mengalami orgasme. Dan pantat Mbak Emi berputar pelan sambil terkadang terhentak keatas, dan tubuhnya mengejang. Sementara itu, cairan yang membanjir keluar itu ada yang tertelan sedikit olehku, tapi setelah aku tahu bahwa rasanya enak, akupun menjilati sisa cairan yang masih mengalir keluar dari memek Mbak Emi. Mbak Emi kembali menggeliat dan mengerang seperti orang sedang menahan sakit.

Kepalaku masih terjepit dipahanya, dan mulutkupun masih terbenam di memeknya. Tapi aku tak peduli, aku menikmati sekali posisi ini. Dan tak ingin cepat-cepat melepaskannya. Tak lama kemudian, Mbak Emi merenggangkan pahanya sehingga kepalaku bisa bebas lagi. Kemudian Mbak Emi menarik tanganku. Aku mengikuti tarikannya, badanku sekarang menindih tubuhnya, kambali bibir kami berpagutan. Lidah saling belit dalam gelora nafsu kami.

Lalu Mbak Emi melepaskan ciumannya dan berkata, “Wan, terima kasih ya. Enak banget deh. Mbak puas. Ayo sekarang giliran Mbak.”

Mbak Emi bangun dari tidurnya dan akupun duduk. Dia mulai membuka pakaianku dimulai dari kemejaku. Setiap kali satu kancing baju terlepas, Mbak Emi mengecup bagian tubuhku yang terbuka. Dan saat semua kancing sudah terlepas, Mbak Emi mulai menjilati dadaku, pentilku disedotnya. Aku merasakan sesuatu yang aneh namun membuatku semakin bernafsu. Sambil menjilati bagian atas tubuhku, tangan Mbak Emi bekerj membuka celana panjangku dan melemparkannya ke lantai. Sekarang aku hanya tinggal mengenak celana dalam saja. Mbak Emi menyuruhku berbaring telentang. Aku menurut.

Lalu celana dalam ku diperosotkannya melalui kakiku, aku membantu dengan menaikkan kakiku sehingga Mbak Emi lebih mudah melepaskan celana dalamku. Dunia seperti terbalik rasanya saat tangan Mbak Emi mulai menggenggam tititku dan mengelus serta mengocoknya perlahan.
“Lumayan juga titit kamu Wan. Gede juga, keras lagi.” celetuk Mbak Emi.

Tak membuang waktu, Mbak Emi segera menurunkan wajahnya sehingga mulutnya menyentuh kepala tititku. Dikecupnya kepala tititku dengan lembut, kemudian dikeluarkannya lidahnya, mulai menjilati kepala, lalu batang dan turun ke.. Bijiku. Semua dilakukannya sambil mengocok tititku dengan gerakan halus. Lidahnya bergerak turun naik dengan lincahnya membuatku semakin tidak terkendali. Aku mendesah dan mengerang merasakan kenikmatan dan sensasi yang Mbak Emi berikan. Sungguh luar biasa permainan lidah Mbak Emi.

Setelah beberapa lama, Mbak Emi menghentikan lidahnya. Rupanya dia sudah merasa bahwa tingkat ereksiku sudah cukup untuk memulai permainan.
“Udah Wan, sekarang Irwan masukkin kontol Irwan ke memek Mbak. Adduhh, Mbak udah nggak sabar pengen disiram sama perjaka. Biar Mbak awet muda Wan.” kata Mbak Emi.

Aku tak mengerti maksud Mbak Emi, tapi yang jelas, sekarang Mbak Emi kembali tiduran dan menyuruhku mulai mengambil posisi di atasnya. Mbak Emi melebarkan kedua kakinya sehingga aku bisa masuk di antara kakinya itu. Kemudian Mbak Emi memegang tititku dan mengarahkannya ke memeknya yang sudah menanti untuk kumasuki. Mbak Emi meletakkan tititku di depan memeknya, kemudian berkata, “Nah, sekarang teken Wan.”

Aku tidak menunggu lebih lama lagi. Segera kutekan tititku memasuki kegelapan memek Mbak Emi. Kurasakan tititku seperti dijepit daging yang sangat keras namun lembut dan kenyal, agak licin tapi sekaligus juga agak seret.
“Aagghh.. Pelan dulu Wan,” pinta Mbak Emi.

Saat kepala tititku sudah masuk, Mbak Emi menggoyangkan pinggulnya sedikit, membuatku semakin mudah untuk memasukkan seluruh tititku. Dan akhirnya terbenamlah sudah tititku di dalam memeknya. Jepitannya kuat sekali, namun ada kelicinan yang membuatku merasa seperti di dalam sorga. Kemudian Mbak Emi terdiam. DIa berkonsentrasi agaknya, karena tahu-tahu kurasakan tititku seperti disedot oleh memek Mbak Emi. Ya ampuun, rasanya mau meledak tubuhku merasakan denyutan di memek Mbak Emi ini. Tititku seperti dijepit dan tidak bisa kugerakkan. Seperti ada cincin yang mengikat tititku di dalam memek Mbak Emi. Aku agak bingung, karena aku tidak bisa bergerak sama sekali.

“Mbak, apa nih?” aku bertanya.
“Enak nggak Wan?” tanya Mbak Emi.
“Iya Mbak, enak banget. Apaan tuh tadi Mbak?” aku kembali bertanya.
Mbak Emi tidak menjawab, hanya tersenyum penuh kebanggaan. Kemudian Mbak Emi melepaskan jepitan memeknya pada tititku.

“Sekarang kamu gerakin keluar masuk titit kamu ya Wan.” perintah Mbak Emi.
Dan akupun mulai permainan sesungguhnya, kugerakkan tititku keluar masuk di lorong kenikmatan Mbak Emi. Setiap gerakan yang kubuat menimbulkan sensasi yang luar biasa, baik untukku maupun untuk Mbak Emi. Mula-mula pelan saja gerakanku, tapi lama-lama, mungkin karena nafsu yang semakin besar, gerakanku semakin cepat. Dan Mbak Emi mengimbangi gerakanku dengan putaran pinggulnya yang mengombang-ambingkan tubuhku.

Putaran pinggul Mbak Emi membuat seperti ada yang mau meledak dalam diriku.

“Hhgghh.. Oogghh.. Sshh, Waann. Kamu jago banget waann..” desah Mbak Emi.
Aku tidak tahu apa maksudnya, namun pujiannya membuatku semakin memacu “motor”ku menerobos kegelapan di lorong Mbak Emi. Lalu Mbak menghentikan putaran pinggulnya dan melingkarkan kakinya ke kakiku sehingga kembali aku tidak bisa bergerak leluasa.

“Wan, sekarang kamu diem aja, kamu rasain aja mpot ayam Mbak.” perintahnya.
Lagi, aku tak tahu apa maksudnya, namun Mbak Emi mencium bibirku dan lidahnya mengajakku berpagutan kembali.

“Mbak udah mau keluar lagi nih wan, kita barengin ya sayang, Mbak tanggung pasti enak deh.” kata Mbak Emi.

Tubuh Mbak Emi diam, namun kurasakan tititku seperti dijepit dan dipijit dengan lembut, benar-benar luar biasa memek Mbak Emi. Kembali desakan lahar dalam diriku menuntut dikeluarkan. Dan denyutan memek Mbak Emi terus saja mengemuti tititku membuatku merem melek. Dan akhirnya aku benar-benar tidak kuat menahan lahar yang mendesak itu.
“Mbakk.. Adduuhh.. Sayaa..” aku tidak dapat meneruskan kata-kataku, tapi Mbak Emi rupanya mengerti bahwa aku sudah hampir mencapai klimaksku.

“Tahan Wan, Mbak juga mau nyampe nih, Barengin ya Wan.” kata Mbak Emi.
Aku tak peduli, karena aku tidak bisa menahannya, dengan erangan panjang, aku merasakan tititku mengeras dan tubuhku mengejang. Kuhunjamkan tititku dalam-dalam ke memek Mbak Emi, dan menyemburlah lahar yang sudah mendesak dari tadi ke dalam memek Mbak Emi.

“Mbaaaaaaaak.. Aagghh..”
Croott… Crroott… Mbak Emipun menjerit kecil dan tubuhnya menegang, tangannya memeluk dengan kuat. Di dalam kegelapan memek Mbak Emi, semprotan air maniku bercampur dengan banjirnya air mani Mbak Emi. Aku tak bisa mengungkapkan bagaimana enaknya sensasi yang kurasakan. Pinggul Mbak Emi bergetar, dan menghentak dengan kerasnya. Memeknya berdenyut-denyut, enak sekali. Banyak selaki lahar yang kumuntahkan di memek Mbak Emi, ditambah lahar Mbak Emi, rupanya tidak mampu ditampung semuanya, sehingga sebagian meleleh keluar dari memek Mbak Emi dan turun ke belahan pantatnya.

Lama kami berdiam dalam posisi masih berpelukan, tititku masih terbenam di memek Mbak Emi. Tubuh kami bersimbah peluh, nafas kami masih memburu. Kemudian, Mbak Emi tersenyum, lalu menciumku.

“Kamu hebat banget Wan. Baru pertama aja udah bisa bikin Mbak puas. Gimana nanti kalo udah jago.” kata Mbak Emi.
“Mbak, Ma kasih ya Mbak. Enak banget deh tadi Mbak.” kataku.

“Sama-sama Wan, Mbak juga terima kasih udah dikasih perjaka kamu. Besok mau lagi nggak?” tantang Mbak Emi.

“Mau dong Mbak, siapa yang nggak mau memek enak kayak gini.” jawabku sambil mengecup bibirnya. Dan kamipun kembali berpagutan.
Share:

Video Anak UI terbaru

Video Anak UI yang sedang Viral




Share:

Cerita Seks Ngentot Tante Toket Kenyal

Cerita Seks Ngentot Tante Toket Kenyal | Kisahku berawal kurang lebih 1 bulan yang lalu. Dengan kepandaianku mengelola bisnis saat itu aku telah memiliki banyak pelanggan di bengkelku. Kebanyakan dari mereka adalah para karyawan yang bekerja di wilayah perkantoran itu. Salah satunya sebut saja Mbak Santi, usianya 35 tahun. Ia adalah seorang manager di suatu perusahaan. Wajahnya cukup menarik, dengan kulit putih bersih. Tubuhnya sangat seksi, padat, dan berisi.


Yang menjadi pusat perhatianku adalah bentuk payudaranya. Bentuknya besar, tapi terlihat serasi dengan postur tubuhnya. Aku sering membayangkan jika suatu saat dapat merasakan halusnya kulit dadanya dan meremas bahkan mengulum putingnya susunya. Malam itu saya sedang menunggu Taksi mau pulang, karena mobil yg biasa saya pakai, dipinjam adik.


Saya baru saja selesai menutup bengkel. Sekitar 10 menit saya menunggu, datang mobil sedan menghampiriku, lalu kaca mobil itu terbuka, dan kulihat Mbak Santi di dalam mobil mewah itu memanggilku, dia pun bertanya. “Mau kemana An..? kok sendirian, mau saya antar nggak?” Tanpa basa-basi saya lalu memasuki mobil mewah itu, kemudian kita mengobrol di dalam mobil. Singkat kata Mbak Santi mengajakku ke diskotik, waktu itu malam minggu.


Cerita Seks Ngentot Tante Toket Kenyal


Sesampainya di diskotik. Kami mencari table yang kosong dan strategis di pojok tapi bisa melihat floor dance. “Saya sedang pesan lagi satu untuk kita berdua,” kata Mbak Santi. Untuk “on”, saya memang butuh dorongan inex, tapi cukup setengah, sementara satu setengahnya lagi untuk Mbak Santi. Ternyata takaran satu setengah baru cukup untuk Mbak Santi. Ternyata Mbak Santi suka triping. Pesanan tak lama datang. Kubayar bill-nya. Ditanganku ada dua butir pil inex, yang satu saya bagi dua.


Mbak Santi segera menelan satu setengah, dan sisanya untuk ku. Setelah 15 menit, Mbak Santi terlihat semakin on. Maka kami berjoget, menari-nari, dan berteriak gembira di dalam diskotek yang penuh dengan orang yang sama-sama triping. Saat saya berdiri dan melihat Mbak Santi “ON” berjoget dengan erotisnya, tak lama kemudian Mbak Santi menghampiri dan merapatkan tubuhnya yang mulus itu ke depanku. Ia mengenakan t-shirt putih dan celana warna gelap.


Dalam keremangan dan kilatan lampu diskotek, ia nampak manis dan anggun. Saya kembali menyibukkan diri dengan bergoyang dan memeluknya belakang tubuhnya. Sesekali tangan ku dengan nakal meremas dada Mbak Santi yang masih tertutup kemeja, Tanganku kian nakal mencoba berkelana dibalik kemejanya dan meremas ke dua gunung kembarnya yang masih terbalut BH.


Tanganku akhirnya dapat merasakan halus dari payudara Mbak Santi, jari-jari ku mencari-cari puting payudara Mbak Santi dengan menyusup ke dalam BH Mbak Santi.


Saya remas dada Mbak Santi dengan perasaan, lalu tanganku bergerak ke punggung Mbak Santi berusaha membuka pengait bra itu, aku sudah berhasil melepas pengait BH nya sehingga dengan bebas tangan kananku membelai dan meremas buah dadanya yang keras sementara tangan kiriku masih tetap mendekapnya dan mulutku pun menciumi leher jenjang itu, sambil tanganku memainkan puncak puting susu itu hingga memerah akibat remasan tanganku.


Sementara Mbak Santi hanya memejamkan matanya meresapi setiap jamahan tangan dan terus bergoyang mengikuti irama, saya terus mengelus dadanya sehingga membuat Mbak Santi dari gerakan tubuhnya Mbak Santi memang kelihatan ingin sekali dipuasi, terlihat dari pantatnya yang montok dan masih terbalut rok, terus merapat ke ke belakang. “Kamu sudah on berat ya?” katanya. Saya tersenyum, kupeluk tubuhnya dan kucium pipinya.


Pada pukul 02.00 pagi, DJ mengumumkan discothique akan terus buka sampai pukul 05.00. Pengunjung bersorak-sorai riang gembira. Tapi Mbak Santi kelihatannya sudah mulai “Droop”. “Sayang saya sudah lelah,” keluh Mbak Santi. “Ah, masa lelah, sayang,” ucapku sambil terus memeluk erat dan menciumi leher belakangnya. “Sayang.. kita pulang yuk..,” katanya. “Saya ingin istirahat”. “Pulang ke mana?” tanyaku. “Ke mana aja” jawabnya.


Saya baru mengerti, bahwa dia ingin lanjut ke tempat tidur. “Saya sebenarnya sudah booking kamar di hotel dekat sini” ujarnya. “Kalau begitu. kita ke sana” “Tapi tunggu, saya mau bilang temen dulu yang lagi digaet cowok di pojok sana,” katanya. Tepat pukul 02:30 dini hari kami keluar dari discothique tersebut dengan rasa puas dan senang terus kami menuju ke hotel. Sesampainya kami dikamar Mbak Santi langsung berjoget lagi kali ini tanpa musik tapi dia yang bernyanyi dan sembari melucuti pakaiannya pas seperti orang sedang menari striptis, saya hanya melihat dan duduk disebuah kursi sofa yang ada tepat didepan jendela.


Sambil menari dan melucuti pakaiannya Mbak Santi menghampiri saya dan segera jongkok didepan saya sambil membuka resleting celana saya, saya hanya memperhatikan apa yang akan dilakukannya, “Wowww.. besar dan kencang sekali.. buat Santi ya..” Kemudian Mbak Santi mengulum penisku yang menegang sejak tadi. “Ooogghh.. sshh.. enak sekali San..”, ucapku. Dia mengeluarkan penis saya yang sudah setengah tegang dan langsung diisapnya dalam-dalam. Jago memang Mbak Santi dalam memainkan isapannya, sambil mengisap lidahnya terus menari dan meliuk diteruskan ke buah zakar saya, setelah 10 menit naik dan turun dia isap dan jilatin penis saya, Mbak Santi melemparkan tubuhnya ke atas kasur, dan jatuh telentang.


Langsung saya menyergapnya, dan kami bercumbu dengan dorongan nafsu sangat tinggi karena pengaruh inex. Kami berciuman, beradu lidah dan bergantian mengisapnya. Kuciumi pipinya, matanya, keningnya, dagunya. Kujilati daun telingaya, dan kusodok-sodok lubang telinganya dengan lidahku. Tanganku tak diam. Mengelus dan meremas rambutnya, menyusuri leher dan belahan dadanya. Kuusuap-usap perutnya, punggungnya, dan bokongnya. Kubekap vaginanya yang ditumbuhi bulu halus nan rimbun.


Jari manis dan telunjukku merenggangkan pinggiran vagina Rani. lalu jari tengahku mengorek-ngorek klitorisnya dengan penuh perasaan. “Ooh.. sshh.. aahh..!” desah Mbak Santi. “Sayang..,” dengusku sambil terus mencumbunya. Aku menarik tanganku dari vagina Mbak Santi. Kini kedua tanganku mengelus-elus pinggiran payudaranya. Berputar sampai akhirnya meremas bagian putingnya. Akhirnya anganku tercapai. “Oooh.. terus.. say..!” desah Mbak Santi lagi. Saya jilati pinggiran buah dadanya, lalu menghisap putingnya. “Oohh.. sayang..!” Mbak Santi merintih nikmat. Mbak Santi bangkit dan mendorong aku supaya telentang.


Ia melakukan cumbuan meniru caraku. Ia pun membekuk penisku dan mengelusnya dengan tekanan yang membangkitkan birahi. Mbak Santi memutarkan badan di atas tubuhku yang telentang. Ia menciumi dan menjilati penisku sementara vaginanya disumpalkan ke mulutku.
Akhirnya Mbak Santi menjatuhkan diri ke tempat tidur dan menarik tanganku. Sementara buah dadanya kian kencang. Putingnya kian memerah. Nafasnya tersengal-sengal. Keringat sudah membasahi sekujur tubuhnya. Seperti keringatku. Juga nafasku.


Juga si nagaku yang sudah meronta. Dia sepertinya bingung ketika kuambil dua bantal. Dengan lembut kuangkat tubuhnya, lalu bantal itu kuletakkan di bawah pantatnya. Menyangga tubuh bagian bawahnya. Membuat pahanya yang putih mulus kian menantang. Terlebih ketika bukit venus dengan bulu-bulu halusnya menyembul ke atas. Membuat magmaku terasa mau meledak. Dia mengerang saat lidahku kemudian jemariku mengelus-elus bulu-bulu itu. Dia menjerit saat kucoba menguak kemaluannya dengan jari telun-jukku. Otot pahanya meregang saat kuhisap clitorisnya. “Masukkan penismu, cepat sayang,” rintihnya. “Aahh..!” rintihan kenikmatannya kali ini terdengar nyaris seperti jeritan.


Aku jongkok di pinggir tempat tidur, kutarik kaki Mbak Santi sampai bokongnya berada di tepi ranjang. Kusingkap selangkangannya, dan kulumat vaginanya yang sudah becek. Kubalikkan tubuhnya, kujilati bokongnya sambil sesekali setengah menggigitnya. Kukorek-korek anusnya dengan jari tengahku. “Ouuwww.. ooh.. sshh.. sayang, cepet masukan!” katanya memelas-melas.


Semakin Mbak Santi memanas birahi, aku semakin terus mempermainkannya dan belum mau melakukan penetrasi. Aku melihat Mbak Santi sampai meneteskan air mata menahan orgasme. Dipegangnya penisku yang sudah membesar ini. Dia bimbing dan penisku terasa menyentuh bibir kemaluannya.


Dia melepaskan pegangannya. Kudorong sedikit. Dia menjerit. Kutahan nafas. Lalu kutekan lagi. Dia memekik. Pada dorongan kesekian kalinya sasaran lepas lagi. Dia terengah-engah. Aku mengambil posisi. Duduk setengah jongkok, kedua kakinya kutarik. Membuat jepitan atas tubuhku. Kuarahkan penisku ke lubang yang basah dan menganga itu. Ketika kudorong dia meremas rambutku kuat-kuat. Kutekan. Dan kutekan terus. Tak memperdulikan rintihannya. Kedua kakinya meregang ototnya. Dengan penuh keyakinan kutambah tenaga doronganku.

Pertama terasa gemeretaknya tulang. Kemudian terasa sesuatu yang plong. Membuat dia menjerit, merintih keras,
“Acchh.. sshh..” Ketika kupacu dia dengan irama yang lambat dia mengerang, menjerit, merintih terus. Kuubah posisi. Kini kedua tanganku berada di belakang punggungnya. Membuat kaitan diantara ketiaknya. Dia meremas rambutku seiring dengan naik turunnya tubuhku. Kukunya mencengkram punggungku ketika kukayuh pantatku penuh irama. Naik dan turun. Tarik dan dorong. Rintihan dan jeritannya seakan tak kupedulikan. Aku berhenti di tengah jalan. Dia meronta. Membuka matanya.


Dengan wajah kuyu. Dari keringat kami yang menyatu. Tanpa diduga, dia mulai mengikuti irama permainanku. Dengan menahan rasa sakit dia menggerakkan pinggulnya. Memutar dan memutar. Sesekali menyentak tubuhku yang di atasnya. Tak lama kemudian Mbak Santi merubah posisi menduduki pahaku, memegang penisku dan dimasukkannya pelan ke vaginanya. “Uppss.. ooh..” rasanya nikmat sekali penisku didalam vaginanya. Mbak Santi terus bergoyang naik turun. “Ahh.. enak..”erangku. Mbak Santi terus bergoyang sambil menjerit kecil. Dadanya yang naik turun langsung kuremas. Lalu kubalikkan posisinya kebawah.


Dan aku gantian memompanya dari atas. Aku terus memompa sampai akhirnya dia mengerang panjang. Otot vaginanya berkontraksi meremas penisku “Oghh.. saya sudah keluar sayang..” erang Mbak Santi. Tiba-tiba, pintu kamar ada yang mengetuk. “San.. San!” suara perempuan. Aku kaget dan sempat terhenti mencumbu Mbak Santi. “Teruskan, sayang..! Itu temanku, biarkan saja,” kata Mbak Santi.


“San..!” pintu diketuk lagi diikuti suara panggilan. “Masuk aja, Lin, enggak dikunci, kok” ujar Mbak Santi. “Huuss..!! Kita lagi nanggung dan bugil begini masa temenmu disuruh masuk..?” sergahku.

“Engga apa-apa, cuek aja..” kata Mbak Santi enteng sambil tersenyum manis. “Wah, rupanya lagi pada asyik nih,” kata Lina begitu membukakan pintu dan masuk ke dalam kamar. Aku masih dalam posisi jongkok dan penisku masih di dalam vagina Mbak Santi, dan hanya menyeringai melihat kedatangan Lina.


“Mana cowokmu tadi?” tanya Mbak Santi. “Tahu kamu pulang ke hotel bawa cowok, yah aku dibawa ke hotel lain” sahut Lina. Aku masih bengong mendengar percakapan dua cewek cantik itu. Tiba-tiba tangan Mbak Santi menarik tanganku yang tersampir di pahanya. “Ayo sayang goyangin penismu, jangan kalah sama Lina” desak Mbak Santi. Aku berdiri dan mengangkat tubuh Mbak Santi ke tengah tempat tidur.


Penisku yang sudah tegang dari tadi, segera saya tembakkan lagi ke dalam lubang vagina Mbak Santi yang sudah tidak perawan tapi masih terasa lengket. Kami sama-sama merasakan kehangatan yang nikmat. “Yang dalam.. cepat.. ah.., enak..” pinta Mbak Santi. Aku pompakan penisku dengan penuh gairah. Sementara Lina pergi ke kamar mandi dan mengurung diri disana. Mungkin berendam di bathtub. Pengaruh inex membuat daya tahan persenggamaanku dengan Mbak Santi cukup lama. Berbagai gaya kami lakukan. Mbak Santi beberapa kali mengerang dan menggigit pundakku saat mencapai orgasme. Sementara penisku masih anteng dan melesak-lesak ke dalam vagina Mbak Santi.


“Aduh.. capek, sayang..!” rintih Mbak Santi. “Istirahat dulu.. yah..?” “Sabar, dong, say. Aku sangat menikmati hangatnya vaginamu,” rayuku. Mbak Santi lantas menggelepar pasrah, tidak kuasa lagi menggerak-gerakkan tubuhnya yang lagi kugarap. Matanya terpejam. Aku semakin terangsang melihatnya tak berdaya. Kami sudah bermandikan keringat. Tapi penisku masih tegang, belum mau memuntahkan sperma. Akhirnya aku kasihan juga sama Mbak Santi yang sudah keletihan dan nampak tertidur meski aku masih menggagahinya. Aku mendengar bunyi keciprak-kecipruk di kamar mandi.
Spontan aku bangkit dan melepas penisku dari vagina Mbak Santi.

Dengan langkah pelan supaya tidak membangunkan Mbak Santi dari tidurnya, aku berjalan dan perlahan membuka pintu kamar mandi. Benar saja Lina sedang berendam di bathtup dengan tubuh bugil. Ia nampak sedang menikmati kehangatan air yang merendamnya. Kepalanya bersender pada ujung bathtub. Aku menghampirinya dengan penis yang masih tegang. Mata lina terbuka dan kaget melihatku berdiri di sisi bathtup, menghadap ke arahnya. “Mana Santi?” tanyanya setengah berbisik sambil matanya turun naik melihat ke arah muka dan penisku yang ngaceng.


“Dia tidur.. jangan berisik,” kataku sambil naik ke dalam bathtup dan langsung menindih tubuh Lina yang sintal dan pasrah. Kami bergumul dalam cumbuan yang hot.


“Lin kamu diatas yah.. ” Sekarang posisiku ada di bawah, dia segera naik keatas perutku dan dengan segera di pegangnya penisku sambil diarahkan kevaginanya, kulihat vaginanya indah sekali, dengan bulu-bulu pendek yang menbuat rasa gatal dan enak waktu bergesekan dengan vaginanya.


“Aaawww.. enak banget vagina kamu Lin..” “Enak kan mana sama punya Santi..?” Katanya sambil memutar pantatnya yang bahenol.


Rasanya penisku mau patah ketika diputar didalam vaginanya dengan berputar makin lama makin cepat.


“Ah.. Lin.. enak banget ah..” Aku pun bangun sambil mulutku mencari pentil susunya, segera kukemut dan kuhisap. “Ton.. saya mau keluar..” “Rasanya mentok.. ah..” Memang dengan posisi ini terasa sekali ujung batangku menyentuh peranakannya.


“Ah.. ah.. eh..” suaranya setiap kali aku menyodok vaginanya. Kugenjot vaginanya dengan cepat. Dia seperti kesurupan setiap dia naik turun diatas batangku yang dijepit erat vaginanya, “Lin mau keluar..” Kupeluk erat dia sambil melumat putingnya.


Kupompa vaginanya sampai kami tak sadar mengeluarkan desahaan dan rintihan birahi yang sampai membangunkan Mbak Santi. Mbak Santi tiba-tiba berdiri di pintu kamar mandi dengan tubuh bugil dan matanya menatap aku dan Lina yang lagi bersetubuh. “Gitu yah, enggak puas dengan aku kamu dengan Lina,” hardik Mbak Santi dengan nada manja, pura-pura marah. Eh, malah Mbak Santi kini ikut naik ke dalam bathtup.


“San, ayo gantian, aku sudah dua kali dibikin keluar, sampai lemes rasanya. Cowokmu ini terlalu perkasa,” kata Lina.

“Ayo sayang, sekarang aku akan membuat penismu muntah,” kata Mbak Santi. Segera Mbak Santi hampiri saya di dalam bath yang penuh dengan air, ditonton Lina yang duduk di ujung bathtup sambil membasuh vaginanya, dan pahanya menjadi sandaran kepala Mbak Santi.


Kusuruh dia nungging, maka terlihatlah lubang vaginanya yang basah dan berwarna merah, kuarahkan kepala penisku ke lubang tempiknya secara perlahan-lahan. Kutekan penisku lebih dalam lagi, dia menggoyangkan pantatnya sambil menahan sakit. Terdengar suara kecroot, kecroot bila kutarik dan kumasukan penisku di lubang vaginanya, karena suara air kali ya.


Mbak Santi semakin histeris, sambil memegang pinggiran Bath Tub dia goyangkan pinggulnya semakin cepat dan suara kecrat, kecroot semakin keras. Tak lama kemudian.


“Aduh say aku nggak tahan lagi ingin keluar..”. “Aduh sayang.. terus..” Mbak Santi terkulai lemas dan vaginanya kurasakan semakin licin, sehingga pahaku basah oleh cairan vaginanya yang keluar sangat banyak. Sebenarnya aku juga sudah nggak tahan ingin keluar, apalagi mendengar desahan-desahan yang erotis pada saat Mbak Santi akan orgasme. “Aduh, sayang, aku kalah lagi nih, sudah mau orgasme!” Cairan hangat terasa masih mengalir dari dalam vagina Mbak Santi.


Aku masih terus menggenjot vaginanya. Wajah Mbak Santi terlihat pucat karena sudah keseringan orgasme. Melihat wajah cantik yang melemah itu, genjotanku dipercepat. “Sayang, saya mau keluar nich..” “Keluarkan di dalam aja sayang, kita keluarin bersamaan, Santi juga mau keluar.” Dan Akhirnya spermaku mendesir ke batang jakar dan aku mencapai orgasme yang diikuti pula dengan orgasme Mbak Santi. Air maniku keluar dengan derasnya ke dalam vagina Mbak Santi dan Mbak Santi pun menikmatinya.


“Akhirnya saya berhasil membuatmu mencapai puncak kenikmatan sayang,” kata Mbak Santi sambil memeluk dan menciumi bibirku. Terasa nikmat, licin, geli bercampur jadi satu menjadi sensasi yang membuatku ketagihan.


Kami bertahan pada posisi itu sampai kami sama-sama melepaskan air mani kami. “Lin.. emut penisku sayang” kataku lalu mencabut penisku dari vaginanya Mbak Santi. Lalu Lina melumat 1/2 penisku hingga pejuhku habis keluar.


“Mhh.. ah.. enak sekali pejuhmu” katanya sambil mengocok ngocok penisku mencari sisa air pejuhku. “Tapi sebentar lagi nagaku akan bangun lagi lho. Lihat, sudah mulai menggeliat!” kataku, menggoda. “Hhhaah..?” Mbak Santi dan Lina terkesiap bersamaan kompak. Kemudian aku segera keluar dari bathtup mendekati Lina dan menyuruhnya membelakangiku.


Dari belakang saya mengarahkan penisku ke vaginanya yang sudah basah lagi karena nafsu melihat saya dan Mbak Santi. Sleepp.. bless.. Aku langsung memasukkan penisku terburu buru, karena sempit waktu membuat kesakitan Lina. “Aduuh pelan pelan dong Say.., Lina sakit nih” katanya agak merintih. “Sorry Sayang aku terlalu nafsu nih” kataku lalu tanganku menyambar susunya yang menggelantung indah. Lalu aku mulai memaju-mundurkan pantatku sambil tanganku berpegangan pada susunya dan meremasnya. “Shh.. ahh.. shh..” kata Lina setengah merintih kenikmatan.


“Lin.. vaginamu sempit.. nikmat Lin..” teriakku mengiringi kenikmatanku pada kemaluan kami. Sleep.. bles.. cplok.. cplok.. irama persetubuhan kami sungguh indah hingga aku ketagihan. Kami melakukan posisi nungging itu lama sekali hingga kami sama-sama sampai hampir bersamaan.


“Shh.. ahh.. say, Lina sampai nih” katanya sambil kepalanya mendongak kebelakang. “Iya Lina sayang, saya juga sampai nih, didalam yah say..” kataku lalu menghunjamkan penisku dalam dalam divagina Lina.


Seerr.. croot..croot kami keluar hampir bersamaan lalu aku mencabut penisku dari vagina Lina. penisku terlihat basah dari air mani kami dan air kenikmatan Lina. “Ugh.. say enak banget..” katanya. Lalu kami duduk beristirahat ditepian sisi kamar mandi sambil menunggu sisa kenikmatan yang tadi kami lalui.
Share: